IRJEN. DADANG HARTANTO DITUNJUK JADI KAPOLDA METRO JAYA HARAPAN RAKYAT: TEGAKKAN HUKUM ADIL DAN TRANSPARAN
Jakarta, 6 Oktober 2026-. Irjen Dadang Hartanto dalam seragam dinas Polri, memegang mikrofon, menyampaikan arahan — kini resmi menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya.
Keputusan ini merupakan langkah mutasi yang diambil Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto tertanggal 2 Oktober 2026, menggantikan Komjen. Asep Edi Suheri yang kini menjabat sebagai Irwasum Polri.
Terlihat: Irjen. Dadang Hartanto mengenakan seragam Polri lengkap, nama dada D. HARTANTO, pangkat bintang tiga di pundak
Sedang: Berbicara di depan umum memberi arahan, menyampaikan komitmen.
SIAPA DADANG HARTANTO?
Lahir: 24 November 1971 Lulusan: Akpol Angkatan 1994 Asal jabatan: Kapolda Maluku
Keahlian utama: Bidang Reserse — berpengalaman menanganai perkara dari bawah hingga tingkat daerah
Pangkat: Inspektur Jenderal Polisi — Bintang Tiga.
Apakah pengalaman di Maluku membawa pandangan baru — tidak terikat kepentingan lama di Jakarta?Apakah latar belakang reserse berarti perkara yang tertunda akan diteliti kembali secara menyeluruh?
Apa langkah pertama yang akan diambil di Polda Metro Jaya?Apakah pintu Polda akan terbuka lebih lebar untuk warga yang melapor?
Apakah ada perubahan sikap
melayani rakyat kecil, bukan hanya yang berkuasa?
Bagaimana hubungan kerja dengan Kapolri baru Suyudi AS satu arah pembenahan?
Apakah kasus-kasus yang menyita perhatian publik akan diproses secara transparan?
Apakah anggota di lapangan akan diawasi lebih ketat tidak ada yang melindungi salah satu pihak?
Apakah hasil kerja nyata akan terlihat dalam waktu dekat?
Apakah rakyat boleh berharap hukum akhirnya berjalan sama untuk semua?
Kepada Bapak Irjen. Dadang Hartanto,ahli reserse — periksalah yang tertutup, tuntaskan yang tertunda, jangan takut pada siapa pun.
Dengarkan suara warga kecil
bukan hanya yang punya jabatan atau uang
Buka prosesnya rakyat berhak tahu bagaimana perkara ditangani.
Buktikan bahwa mutasi ini bukan sekadar ganti nama — tapi ganti cara, ganti sikap, ganti hasil Rakyat Jakarta menunggu. Bukan janji — bukti.”
