Jakarta, 3 Juni 2026 — Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, tekanan ekonomi global, serta perubahan konstelasi kekuatan internasional, Partai Indonesia Raya menyelenggarakan Talkshow Kebangsaan bertajuk:
“Indonesia di Tengah Konflik Global: Kebangkitan Nasional untuk Ekonomi Mandiri dan Kepemimpinan Berdaulat.”
Kegiatan tersebut dilaksanakan secara hybrid di Aula Universitas Salakanagara, Jakarta, pada Rabu, 3 Juni 2026, dan diikuti oleh jajaran pengurus DPP Partai Indonesia Raya, perwakilan pengurus DPD, serta 286 peserta daring dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Talkshow ini menjadi forum strategis untuk membahas posisi Indonesia dalam menghadapi konflik global, ancaman krisis ekonomi, tantangan kedaulatan nasional, serta kebutuhan menghadirkan kepemimpinan bangsa yang konstitusional, berani, mandiri, dan berpihak kepada rakyat.
Dalam forum tersebut, Partai Indonesia Raya menegaskan bahwa kebangkitan nasional pada masa kini tidak cukup dimaknai sebagai seremoni historis, melainkan harus diwujudkan dalam agenda nyata: memperkuat ekonomi nasional, menjaga kedaulatan politik, membangun ketahanan nasional, memperkuat diplomasi pertahanan, serta menciptakan komunikasi politik yang mempersatukan bangsa.
Prof. Dr. H. Irmanjaya Thaher, S.H., M.H., selaku Guru Besar Hukum Tata Negara, Rektor, Purnawirawan Militer, sekaligus Ketua Umum Partai Indonesia Raya, dalam keynote speech-nya menegaskan bahwa Indonesia harus memiliki keberanian mengambil posisi strategis di tengah ketidakpastian global.
Menurutnya, konflik internasional yang terjadi saat ini harus menjadi peringatan bagi Indonesia untuk tidak bergantung secara berlebihan kepada kekuatan luar. Bangsa Indonesia harus kembali kepada semangat kemandirian nasional, memperkuat ekonomi rakyat, menjaga persatuan, dan memastikan bahwa kepemimpinan nasional berjalan di atas landasan konstitusi serta kepentingan rakyat.
“Indonesia tidak boleh menjadi bangsa yang hanya bereaksi terhadap tekanan global. Indonesia harus mampu menyusun arah sendiri, membangun kekuatan sendiri, dan berdiri sebagai bangsa besar yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi, serta bermartabat dalam pergaulan dunia,” demikian pesan utama yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.
Talkshow ini menghadirkan enam narasumber dari berbagai latar belakang keilmuan dan pengalaman strategis, yakni:
Prof. Dr. H. Irmanjaya Thaher, S.H., M.H., sebagai keynote speaker, membahas arah kebangsaan Partai Indonesia Raya dalam menjawab tantangan global.
Prof. Dr. Juanda, S.H., M.H., Guru Besar Hukum Tata Negara, membahas pentingnya menjaga konstitusi dan demokrasi di tengah tekanan politik serta krisis global.
Prof. Dr. Lely Arriane, M.Si., Guru Besar Komunikasi Politik, menyoroti pentingnya komunikasi politik kebangsaan untuk membangun optimisme dan persatuan nasional.
Mayjen TNI (Purn.) Daniel Chardin, S.E., M.Si., Sekjen Partai Indonesia Raya, membahas ketahanan nasional dan konsolidasi politik kebangsaan dalam menghadapi ancaman global.
Mayjen TNI (Purn.) Fulad, S.Sos., M.Si., mantan Penmil PTRI di PBB, memaparkan diplomasi pertahanan Indonesia dan tantangan perdamaian dunia di tengah konflik Iran–AS–Israel.
Mayjen TNI Dr. Ir. Pujo Widodo, S.E., S.H., S.T., M.A., M.D.S., M.Si., M.Si.Han., akademisi dan mantan Dekan Universitas Pertahanan, membahas pembangunan generasi pemimpin strategis bagi ketahanan nasional, pendidikan, dan masa depan Indonesia.
Forum ini juga menekankan bahwa konflik global tidak hanya berdampak pada sektor pertahanan, tetapi juga menyentuh langsung kehidupan masyarakat, terutama melalui kenaikan harga kebutuhan pokok, tekanan nilai tukar, ketidakpastian investasi, gangguan rantai pasok, serta potensi pelemahan daya beli rakyat.
Karena itu, Partai Indonesia Raya memandang bahwa agenda ekonomi mandiri harus menjadi prioritas nasional. Ekonomi Indonesia harus dibangun di atas kekuatan produksi dalam negeri, keberpihakan kepada UMKM, penguatan pangan nasional, kemandirian energi, serta perlindungan terhadap kelompok masyarakat kecil.
Selain isu ekonomi, para narasumber juga menekankan pentingnya konsolidasi demokrasi. Dalam situasi dunia yang penuh tekanan, demokrasi Indonesia harus tetap dijaga agar tidak mudah terbelah oleh polarisasi politik, disinformasi, dan kepentingan sempit elite. Kepemimpinan nasional ke depan harus mampu menyatukan, bukan memecah; menenangkan, bukan memperkeruh; serta membangun harapan, bukan ketakutan.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari peserta, baik yang hadir langsung maupun yang mengikuti secara daring. Kehadiran 286 peserta online dari berbagai daerah menunjukkan bahwa isu kebangsaan, kedaulatan, dan masa depan Indonesia masih menjadi perhatian besar masyarakat.
Melalui talkshow ini, Partai Indonesia Raya menegaskan komitmennya untuk menjadi partai politik yang dekat dengan rakyat, terbuka terhadap gagasan akademik, peduli terhadap isu strategis nasional, serta berjuang menghadirkan kepemimpinan Indonesia yang berdaulat, konstitusional, dan berpihak kepada kepentingan bangsa.
Sebagai penutup, forum menyampaikan pesan bahwa Indonesia harus bangkit bukan hanya sebagai bangsa yang bertahan dari krisis, tetapi sebagai bangsa yang mampu memimpin arah perubahan dengan kekuatan konstitusi, ekonomi mandiri, ketahanan nasional, dan kepemimpinan yang berdaulat.